Kelapa Sawit PTPN VIII Mencetak Laba Di Semester I

Kelapa Sawit PTPN VIII Mencetak Laba Di Semester I

Bandung, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII merupakan salah satu anak perusahaan Holding Perkebunan yang berada di Provinsi Jawa Barat dan Banten. PTPN VIII mengelola beberapa komoditi, salah satunya yaitu Komoditi Kelapa Sawit. Komoditi ini tersebar di beberapa kabupaten di antaranya Lebak, Pandeglang, Bogor, Sukabumi, Cianjr, Bandung Barat, dan Subang dengan luas areal sebesar 19.288,97 Ha. Saat ini Kelapa Sawit menjadi andalan dalam memperoleh cash in dalam memenuhi aktivitas operasional perusahaan.

 

Selama semester I tahun 2021 Komoditi Kelapa Sawit membukukan laba sebesar Rp 18,327 Milyar, meningkat sebesar 164% dari tahun sebelumnya. Laba ini berasal dari penjualan Minyak Sawit (MS)/ Crude Oil Palm (CPO) dan Inti Sawit (IS)/ Kernel hasil produksi. Banyak pihak yang berperan dalam mencetak laba pada Komoditi Kelapa Sawit, di antaranya Kebun Kelapa Sawit Eksisting yang merupakan ujung tombak operasional di lapangan, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang berperan mengolah bahan mentah menjadi bahan komoditi, dan kebijakan manajemen yang tepat selama Semester I, serta kontribusi Pihak ke III dari Kebun Petani sebagai pemasok TBS untuk bahan baku PKS.

 

Beberapa indikator yang membuat Komoditi Kelapa Sawit memperoleh laba selama Semester I. Pertama, perbaikan kultur teknis tanaman Kelapa Sawit dengan cara memperbaiki penyiangan, manajemen pelepah, melakukan pemupukan rutin, pemberantasan hama tanaman, dan pemeliharaan jalan produksi.  Kultur teknis tanaman sebagai penunjang utama dalam memperoleh produktivitas tanaman. Produktivitas Kelapa Sawit mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya sebesar 40% (4.155 menjadi 5.814 Kg TBS/Ha).

 

Kedua, perbaikan PKS Cikasungka dan Kertajaya. Selama Semester I, PKS menyelesaikan program perbaikan berkesinambungan dari Program Semester II tahun 2020 yang baru selesai pada tahun ini. Selain itu selama Semester I tahun 2021, terdapat Program Perbaikan PKS untuk stasiun atau mesin yang rusak. Dampak terhadap perbaikan PKS sangat signifikan, di antaranya kapasitas pengolahan meningkat dari 56 Ton TBS/Jam menjadi 69 Ton TBS/Jam, rata-rata produksi Asam Lemak Bebas (ALB) > 5 meningkat dari 12% menjadi 60%, restan pabrik menurun akibat tidak ada antrian, serta pengiriman MS + IS lancar.

 

Terakhir, harga CPO meroket dari Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) yang telah ditetapkan sebesar Rp 6.984 menjadi Rp 9.148. Kenaikan harga CPO ternyata mempengaruhi peminat MS + IS di tanah air. Harga meningkat justru peminat senakin banyak, hukum ekonomi tidak berlaku. Dalam hukum ekonomi, sebuah permintaan akan suatu barang akan meningkat jika harganya turun, berlaku ceteris paribus.

 

Kebijakan manajemen yang tepat dalam memanfaatkan momentum harga CPO yang tinggi meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Proses yang efektif dan efisien dari Panen – Angkut – Olah – Kirim – Jual semakin menambah pundi – pundi revenue yang memberikan kontribusi sebesar 40% dari revenue perusahaan selama Semester I. Harapannya harga CPO tetap bertahan di harga yang sekarang dan produktivitas terus mengalami peningkatan.

 

“Segala permasalahan yang ada pasti ada solusinya. Kerjakan amanah dengan penuh tanggung jawab untuk memperoleh hasil yang optimal. Dengan berpedoman pada core value AKHLAK – BUMN, maka perilaku dan budaya korporasi akan terbentuk dalam menunjang going concern perusahaan dengan profitabilitas yang optimal. Semoga PTPN VIII semakin Jaya!!!” Ujar Kepala Bagian Operasional Kelapa Sawit dan Karet, Ir. Budhi HT.

Ditulis oleh :

Bagian Operasional II PTPN VIII

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *