Ngopi Bareng Eighters #6 Walini is Tea….. Tea is Walini, Now, a new way of drinking tea just born : Walini Syrup !!

Ngopi Bareng Eighters #6 Walini is Tea….. Tea is Walini, Now, a new way of drinking tea just born : Walini Syrup !!

Assalamualaikum wr wb,

 

Ya, teh adalah Walini. Saya berharap para Eighters “mengimani” tag-line ini. Kita yakin bahwa nama Walini, apapun produknya – termasuk nama warung sekalipun – sudah identik dengan teh. Dan marilah kita sambut, new product of PTP 8 : Walini Syrup, yang sudah pasti adalah teh pula. Dengan “format” baru, dengan kemasan baru dan dengan cara penyajian yang baru. A new way of drinking tea has just born…..!

 

Ide ini berawal dari obrolan malam sambil ngopi  bersama kolega bisnis saya Pak Aminudin di café terdekat kantor PTPN 8 di Pawon Pitoe di bulan Desember 2021. Beliau adalah salah satu pebisnis handal di Indonesia yang kebetulan satu kampung dengan saya. Teh di Indonesia, seperti halnya kopi adalah minuman yang sudah membudaya di negara kita. Bukan hanya kaya dengan varian produk, brand, kemasan ataupun harga. Kopi sekarang sudah menjadi kata kerja, yang terjemahannya bisa artinya makan, atau sekedar bertemu kawan atau bahkan rapat informal dengan mitra bisnis sampai Komisaris. Meskipun semuanya  tanpa ada yang minum kopi sama sekali.  Kalau kopi sekarang bisa berkembang sedemikian rupa, apa yang bisa kita lakukan dengan teh? Tercetus ide kenapa kita ngga mulai dengan melakukan diversifikasi produk teh menjadi produk sirup teh, misalnya. Beliau memperlihatkan produk sirup teh yang sudah diproduksi oleh salah satu produsen terkemuka di dunia yang dibandrol $29,95 AUD per liter. Oh my God…

 

Saya juga langsung melihat ini adalah peluang dalam rangka menerapkan teori manajemen terkait dengan pemasaran menggunakan Blue Ocean Strategy. Kita tidak perlu berperang sampai berdarah-darah dengan kompetitor di satu medan. Apalagi kalau kita masih sekelas David dan mereka adalah Goliath. Marilah kita cari medan  yang baru saja.

 

Saya ingin meyakinkan para Eighters bahwa di dunia “Nteh” ini, para Eighters-lah championnya. PTPN 8 lah perintisnya dan sumber ilmunya. Bukan hanya produksi berbagai grade dan varian saja, tapi juga “how to make business” dengan teh. Bagaimana membuat teh sampai menghasilkan uang. Jadi jangan takut melakukan perubahan karena ini adalah dunia kita.

 

Maka sambil menikmati makan sahur di rumah Bandung seraya menunggu waktu Shalat Subuh, kali ini saya ingin mengajak Eighters untuk bersama-sama meng-eksplore  kondisi per “Teh” an Indonesia……khususnya teh di PTPN 8.

 

Kita tahu bahwa teh – dilafalkan “Nteh” diantara kita – merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai peran strategis dalam kegiatan perekonomian nasional.  Dan teh sejak dahulu kala ini merupakan core business nya PTPN 8. Jadi ini sudah menjadi  legacyti baheula – bagi PTPN 8. Sebagai salah satu komoditas yang berfungsi sebagai bahan baku minuman, teh memiliki kelebihan dibandingkan minuman lainnya. Hal ini bisa dimaklumi karena teh kaya akan mineral dan vitamin yang diperlukan oleh tubuh, bahkan para pakar gizi mengakui manfaat dari minum teh ini.

 

Dalam perekonomian nasional, teh memiliki peran penting dalam menghasilkan devisa bagi negara meskipun nilai ekspornya terus menurun dari US$ 113,1 juta pada tahun 2016 menjadi US$ 96,3 juta pada tahun 2020. Sebagian besar ekspor teh tersebut merupakan teh hitam yang tercatat sekitar 80 persen lebih dengan nilai ekspor sekitar US$ 79,1 juta (BPS, 2020). Meskipun demikian peluang pasar teh dalam negeri masih cukup besar dan semakin terbuka bila diikuti dengan peningkatan mutu teh, perluasan jangkauan pemasaran ke daerah-daerah dan yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan diversifikasi produk yang sesuai dengan perubahan selera masyarakat. Sebagaimana kita ketahui, sekarang ini teh tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan minuman saja, melainkan teh juga telah dimanfaatkan sebagai bahan untuk kosmetika baik untuk perawatan kulit maupun rambut (BPS, Statistik Teh Indonesia 2020).

 

Mengapa trend bisnis teh menurun? Setelah membaca Statistik Teh Indonesia 2020 dari BPS tersebut ditambah dengan membaca beberapa literatur baik dari sumber akademik maupun media online dan diskusi dengan beberapa tokoh per-teh-an Indonesia, bermacam-macamlah faktor yang dituding menjadi penyebabnya. Hampir semua menyalahkan eksternal, mulai dari tidak adanya pembatasan impor teh oleh Pemerintah lah, harga yang dipermainkan oleh para Trader lah, sampai dengan masalah tidak standarnya pemupukan di kebun-kebun teh. Kenapa tidak standar? ……”Karena kita tidak punya ..UANG”.

 

Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa teh Indonesia akan sulit berkembang bila kita tidak mengikuti perkembangan jaman. Saat ini kita tidak bisa mengandalkan bantuan dari pihak lain, kalau mau berubah harus dari diri kita.   Bahkan saya sempat berseloroh dengan pak Dian – SEVP Operasional 1 PTPN 8 yang khusus menangani komoditi teh PTPN 8, beliau mengatakan bahwa  “SOP yang ada saat ini masih menitikberatkan pada produksi”, serta merta saya minta GANTI SOP nya. Ganti dengan SOP yang berorientasi pasar. SOP kan bukan kitab suci atau UUD. Sedangkan UUD pun masih bisa diamandemen kalau dikehendaki rakyat.  Sering dalam kesempatan diskusi dengan para Eighters saya selalu menyampaikan “dari pada kita memproduksi teh sebanyak 100 ton namun yang laku hanya 40 ton, lebih baik kita memproduksi 40 ton namun laku semua”. Kalau bahasa sekarang yang penting “CUAN” ……Bila perlu PTPN 8 tidak usah memproduksi teh sebanyak 38 grade namun cukup 4 atau 5 grade saja namun itu dibutuhkan oleh pasar. Itulah antara lain yang mendasari lahirnya ide membuat  teh Syrup Walini.

Saya langsung menghubungi pak Sugama – Manajer IHT PTPN 8 untuk mulai mencoba membuat formula sirup teh tersebut. Saya mentargetkan dalam 3 bulan harus sudah keluar produk sirup teh PTPN 8 ini karena di Indonesia belum banyak produsen memasuki pasar ini. Alhamdulillah tepat tanggal 12 April 2022 setelah tiga bulan melakukan riset, pak Gama berhasil meluncurkan produk sirup teh PTPN 8, meskipun saat ini masih harus menunggu ijin edar dari BPOM yang sebentar lagi keluar. Saya merasa ini adalah kado Lebaran buat PTPN 8. Sambil menunggu ijin keluar untuk sementara sirup teh Walini PTPN 8 ini dibagikan kepada karyawan sebagai gift di bulan Ramadan ini. Artinya “Untuk Kalangan sendiri dan tidak diperjual belikan”,

sambil test pasar. Varian yang saya minta dibuat adalah  Lychee Tea dan Black Tea yang sudah sangat digemari oleh penikmat teh Walini.

 

Sambil suka cita karena munculnya varian produk baru PTPN 8 tersebut saya mengundang pak Gama ke kantor untuk bercerita bagaimana proses penciptaan produk tersebut. Ternyata  untuk menciptakan produk sirup teh yang rasanya ngga jauh berbeda dengan produk pendahulunya yakni teh celup Walini, begitu banyak suka dukanya.  Setiap minggu saya selalu WA beliau menanyakan perkembangan proses inovasi tersebut. Beliau sibuk  pontang panting mencari bahan baku dasar, beratus-ratus kali mencoba formula yang tepat agar rasanya sesuai dengan yang saya minta. Mengkreasi desain botol, desain kemasan dan lain-lain sampai akhirnya muncul produk sirup teh Walini dengan  2 varian yang sudah melegenda yakni Lychee Tea Syrup dan Black Tea Syrup.

 

Terima kasih para Eighters, anda adalah pejuang tangguh atau fighters…anda bukan orang-orang lemah yang menerima keadaan, anda adalah pekerja keras, anda adalah insan yang siap berubah menuju yang lebih baik…..sekali lagi bravo para Eighters khususnya manajemen di IHT dan seluruh jajaran….

 

Jempol 2 untuk Eighters IHT yang telah bekerja keras mewujudkan mimpi saya dengan hadirnya varian produk teh Walini yang baru….

 

Walini adalah teh… Teh adalah Walini ………dan PTPN 8 adalah teh…!!

 

Semangat terus dan selamat bekerja, Semoga Allah SWT meridhoi dan memberikan kelimpahan berkah untuk kita semua…aamiin.

 

Wassalamualaikum wr wb,

 

Geger Kalong, 12 April 2022

Didik Prasetyo

 

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *