Kerja Sama dengan Wika di Subang, PTPN VIII Optimalkan Aset Lahan

Kerja Sama dengan Wika di Subang, PTPN VIII Optimalkan Aset Lahan

PT Perkebunan Nusantara VIII membidik optimalisasi nilai ekonomi lahan yang dimilikinya lewat rencana pembentukan usaha patungan atau joint venture dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. guna mewujudkan rencana pengembangan kawasan industri di Subang, Jawa Barat.

 Bisnis.com, JAKARTA – PT Perkebunan Nusantara VIII membidik optimalisasi nilai ekonomi lahan yang dimilikinya lewat rencana pembentukan usaha patungan atau joint venture dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. guna mewujudkan rencana pengembangan kawasan industri di Subang, Jawa Barat.

Direktur Utama PTPN VIII Wahyu memaparkan bahwa kerja sama yang disepakati lewat penandatanganan nota kesepahaman pada Rabu (3/7/2019) tersebut adalah bentuk sinergi perusahaan pelat merah untuk meningkatkan perekonomian Jawa Barat, khususnya Subang. Langkah ini merupakan bentuk pemanfaatan atas kehadiran infrastruktur strategis seperti kereta cepat Jakarta-Bandung, pelabuhan Patimban, dan beroperasinya bandar udara Kertajati.

“Sekali lagi semangatnya adalah melahirkan aktivitas ekonomi baru lewat kawasan ini sehingga ekonomi Jawa Barat dapat berkembang sejalan dengan kehadiran infrastruktur tersebut,” kata Wahyu kala dihubungi Bisnis, Rabu (3/7/2019).

Wahyu menyebutkan pihaknya telah menyediakan area seluas 6.127 hektare Untuk penyertaan lahan dalam rencana pengembangan proyek. Kawasan ini sendiri merupakan bagian dari aset PTPN VIII yang dinilai tak cukup optimal untuk usaha perkebunan namun berpotensi untuk pengembangan sektor lain.

“Kami sudah menyusun tahap restrukturisasi PTPN VIII. Setidaknya lima tahun ke depan memang salah satu yang harus dilakukan adalah optimalisasi aset-aset yang dimiliki yang jika menilik kajian ekonomi, sudah tidak layak untuk usaha perkebunan. Salah satunya dengan kerja sama dengan BUMN lain untuk lebih optimal, termasuk dengan kerja sama ini,” sambungnya.

Meski membidik restrukturisasi lewat optimalisasi lahan perkebunan yang tak lagi layak, Wahyu menyebutkan bahwa usaha perkebunan masih tetap menjadi fokus perusahaan. Ia pun menjelaskan bahwa besaran lahan yang dinilai potensial untuk kawasan industri maupun pariwisata berada di kisaran 9.000 sampai 10.000 hektare.

“Luas total kebun kami sekitar 113.000 hektare. Ada yang sudah tidak layak dan ada yang tetap dipertahankan untuk daerah perkebunan, dan ini pasti, jadi tidak semua [dialihfungsikan],” sambungnya.

Wahyu mengatakan pihaknya tak menutup kemungkinan untuk mengembangkan rencana pada waktu mendatang. Hal ini tak lepas dari keberlangsungan usaha perkebunan yang menghadapi kendala di kawasan yang industrinya tengah berkembang seperti Subang.

“Tapi desain kami kan semua berkembang, tidak bisa ditetapkan hari ini dan seterusnya seperti itu. Karena salah satu kesulitan kami pada daerah yang sudah sangat maju industrinya adalah kesulitan mencari tenaga untuk bekerja di sektor perkebunan. Contoh misalnya di Subang, kebun PTPN VIII [di sini] itu karet, untuk meyadap saja susah. Itu kesulitannya

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *